Ayah Syarif Tak Ikut Jemput Jenazah

VIVAnews — Siapa pelaku bom bunuh diri di tengah Salat Jumat di Masjid Az Dzikra, kompleks Mapolresta Cirebon sudah terungkap. Dia adalah Muchamad Syarif, pemuda 32 tahun asal Cirebon.

Kini jasad Syarif masih berada di ruang jenazah RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Ibu dan adiknya sudah berada di Jakarta untuk menjemput. Namun, ayahnya Abdul Ghofur mengaku tak ikut ke Jakarta.

“Saya sekarang ada di Mapolresta Cirebon. Saya nggak akan datang ke sana, ibu dan adik-adiknya yang ke Jakarta,” kata Ghofur saat dihubungi VIVAnews.com, Selasa 19 April 2011.

Alasannya, “Polisi memerlukan saya,” kata dia. Ghofur mengaku belum tahu kapan jenazah Syarif akan dibawa ke Cirebon. “Saya menunggu berita, calling dari Mabes,” tambah dia.

Pihak keluarga juga belum menyiapkan secara khusus prosesi pemakaman. Bahkan, di mana Syarif bakal dikubur belum disepakati. “Saya nanti berkoordinasi dengan Sultan Kanoman, apakah dimakamkan di sini (Cirebon) atau Gunung Djati (kompleks pemakaman keraton). Rencana di Gunung Djati, saya maunya begitu,” kata Ghofur.

Untuk diketahui, Syarif memiliki darah bangsawan melalui garis ibunya, Sri Mulat.

Juru Bicara Keraton Kanoman, Ratu Arimbi Nurtina mengakui, Sri Mulat, merupakan generasi keenam dari Sultan Imanudin dan bergelar Ratu. Dia terdaftar sebagai anggota Keraton Kanoman pada 2007 dan mendapat pengakuan silsilah.

Namun begitu, kata adik kandung Sultan Kanoman Cirebon ini, silsilah dia sangat jauh, karena sejak keluar dari keraton sudah hidup sendiri. Apalagi, Syarif tidak tercatat di keraton.

***
Hubungan Syarif dengan Abdul Ghofur mulai renggang sejak tahun 2009. Sang ayah yang berusia 66 tahun itu berkisah bahwa dulu Syarif adalah anak yang baik tapi belakangan tabiatnya berubah keras. Dan Abdul Ghofur menduga perubahan itu terjadi setelah dia bertemu dengan sekelompok orang dari aliran keras. ” Dia bertemu aliran keras mulai 2009. Alirannya nggak ngerti saya apa, tapi Syarif memakai pakaian jubah,” kaya Abdul ditemui di rumahnya, Senin 18 April 2011.

Perubahan yang paling kentara, bisa diamati dari omongannya. “Saya nasehati malah saya dibilang kafir,  “bapak kafir”, ” kata dia.

Syarif juga kerap malah balas menasehati. Kata dia, “Orang tua mau masuk surga nggak”. Serasa surga ada di tangan dia.

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s