NATO Serbu Perompak, 20 Sandera Selamat

VIVAnews – Pada dua tahun lalu, pasukan dari Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) berhasil menyelamatkan 20 nelayan dari gerombolan perompak Somalia di Teluk Aden. Para perompak sempat dibekuk sebelum akhirnya dilepas.

Menurut kantor berita Associated Press (AP), para sandera merupakan awak dari sebuah kapal penangkap ikan berbendera Yaman yang disandera perompak selama dua hari. Kapal itu justru dijadikan para perompak sebagai “kapal induk.” Artinya, kapal besar itu bisa menarik para perahu cepat (speed boat) milik perompak menuju perairan dalam untuk mengincar kapal-kapal lain.

Namun, keberadaan mereka diketahui oleh sebuah kapal fregat Belanda yang bertugas di bawah bendera NATO. Tentara NATO dari kesatuan pasukan komando Belanda langsung menyerbu kapal itu dan membebaskan 20 sandera tanpa perlawanan dari para perompak. Pasukan Komando juga menyita tujuh pucuk senjata mesin otomatis dan sebuah peluncur granat.  

Namun, tujuh bajak laut yang berada di kapal itu dibiarkan bebas karena pasukan NATO tidak punya wewenang untuk menangkap mereka. “NATO tidak memiliki kebijakan menahan orang,” kata Mayor Alexandre Santos Fernandes, perwira NATO asal Portugal yang memantau operasi pembebasan sandera itu.

Kendala lain NATO tidak bisa menahan perompak adalah karena mereka ditangkap oleh pasukan asal Belanda sedangkan para perompak, korban dan kapal bukan berasa dari Belanda, demikian ungkap Fernandes.

Lepasnya para perompak menegaskan kesulitan yang dihadapi para pasukan manca negara dalam mengatasi perompakan yang menjadi-jadi di Teluk Aden dan sekitarnya. Apalagi, di saat yang sama, para perompak lain juga menduduki sebuah kapal kargo berbendera Belgia yang membawa 10 awak di dekat Kepulauan Seychelles dan kini mengarah ke perairan Somalia. 

Pengamat dari Chatham House, Roger Middleton, menilai bahwa sulit bagi para aparat keamanan mancanegara untuk sekaligus menangkap para perompak saat berhasil membebaskan sandera karena mereka tidak dibekali otoritas untuk menangkap orang.

Sejak, awal 2009, para perompak telah menyerang lebih dari 80 kapal. Menurut pantauan Bio Maritim Internasional yang berbasis di Kuala Lumpur, Malaysia, jumlah serangan itu empat kali lipat lebih besar dari data tahun 2003.

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s