Pemakaman Massal Korban Banjir Bandang Papua

VIVAnews — Sepuluh korban banjir bandang setinggi dua meter di Danau Paniai Kabupaten Paniai, Papua, ditemukan dalam kondisi mengenaskan, dengan luka benturan benda keras di sekujur tubuhnya.

Mereka tak terselamatkan saat ombak banjir bandang tiba-tiba menghantam speed boat rute Enatorali-Kampung Munayepa Distrik Kebo yang mereka tumpangi, 25 Maret 2011 lalu. Sementara  sembilan penumpang lainnya bisa menyelamatkan diri.

Jasad enam korban baru ditemukan lima hari pasca kejadian. Empat lainnya baru hari ini dievakuasi.

Anggota DPR Papua, Nason Uti mengatakan, sepuluh korban yang telah ditemukan langsung dimakamkan secara massal sesuai dengan adat masyarakat Pania. “Saya sebagai putra asli Paniai langsung memimpin upacara pemakaman para korban sesuai dengan tradisi masyarakat,” kata dia saat dihubungi Jumat 1 April 2011.
 
Selain menelan korban jiwa, banjir bandang di Paniai yang terjadi selama 3 minggu terakhir, mengakibatkan puluhan rumah dan fasilitas umum lainnya terendam air. Dermaga induk kota Enarotali Ibukota Paniai juga lumpuh total karena rusak berat setelah tergenang air hingga 2 meter. Landasan pacu pesawat di bandara Paniai juga terendam air sepanjang 100 meter.
 
Puluhan hektar perkebunan warga juga terancam gagal panen, serta beberapa tambak ikan warga rusak berat. 
 
Sementara, Aktivis LSM Lingkungan Fokker Papua, Septer Manufandu ketika dikonfirmasi mengatakan banjir bandang diduga disebabkan terusiknya kawasan konservasi di sekitar Paniai.  “Paniai kan dekat dengan kawasan hutan lindung yang selama ini sebagai daerah penyangga. Bisa saja karena ekosistem di sana terganggu sehingga mengakibatkan tidak ada lagi keseimbangan alam,” kata Septer.
 
Namun, lanjut dia, untuk memastikan hal itu, dirinya saat ini masih terus berkoordinasi dengan rekan-rekan LSM di Paniai, melakukan pemantauan.
 
Ditanya apakah ada aktivitas penebangan kayu di hutan di sekitar Paniai, Septer mengakui, pihaknya kesulitan dalam melakukan pantaun di daerah-daerah gunung. ‘’Kalau Wasior kan karena daerah pantai, sehingga kami mudah melakukan pantauan terhadap aktivitas penebangan hutan. Sementara di daerah gunung, tingkat kesulitannya sangat tinggi untuk melakukan monitor,’’ ungkapnya.

Sebelumnya, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Abepura, Aloysius Giai mengatakan 13 warga tewas dan enam selamat dalam musibah ini.  Sementara 782 unit rumah rusak.

Sejauh ini, kata dia, ada sekitar 6.000 pengungsi dan membutuhkan bantuan segera. “Sudah muncul berbagai penyakit mulai dari diare, flu, cacar,” tambahnya.

Wakil Presiden, Boediono telah menyatakan bela sungkawa atas bencana yang melanda Paniai ini. Dengan bencana ini, Wapres mengingatkan kepala daerah untuk siaga bencana. “Karena negara kita sangat rawan bencana,” kata dia. (SJ)

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s