Aqua Hengkang Dari Serang

RADAR BANTEN-SERANG – Manajemen PT Tirta Investama, pro­­dusen air mi­num dalam ke­ma­­san merek Aqua, me­mu­tus­kan untuk ti­dak mem­pri­ori­tas­­kan investasi pem­ba­ngunan pa­b­­rik baru di Desa Cu­rug Goong, Ke­camatan Pa­da­rin­cang, Ka­bupaten Serang. Per­usaha­an ini akan meng­hen­tikan seluruh ke­­gia­tan di da­erah ter­­­sebut dan mem­fokuskan kon­sen­trasi dan prio­ritas ke pabrik dan lokasi lain.
“Manajemen memutuskan untuk me­ng­alih­kan fokus bisnis ke daerah lain,” kata Di­rektur Komunikasi PT Tirta Investama Troy Pantouw melalui siaran pers diterima Radar Banten, Jumat (18/2). Beberapa alasan mun­durnya Tirta Investama dari Serang antara lain aksi demonstrasi yang berujung tindak ke­ke­rasan dan anarkis di lokasi proyek pada De­sember 2010. “Kami merasa tidak mendapat ke­layakan dan kenyamanan berinvestasi di da­erah tersebut,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, Tirta In­vestama telah em­pat tahun lebih menjalin kerja sama dengan pe­merintah daerah dan masyarakat setempat ser­ta organisasi-or­ganisasi sekitar yang terkait dengan pembangunan pabrik di Pa­darincang. Selama proses pem­ba­­ngunan tersebut, telah dipas­ti­kan bahwa secara operasional aman untuk ketersediaan sumber daya air dalam jangka panjang dan di saat yang sama mem­berikan kontribusi secara signifikan ter­hadap perkembangan sosial di area tersebut. “Kami aktif menjalin dialog dan kegiatan ling­­kungan dan sosial bagi ma­sya­rakat sekitar,” tegas Troy.
Dijelaskan juga, perusahaan ju­ga telah memperoleh semua per­izinan yang diperlukan dan terus me­­nerus menjalin dialog baik ke­pada pemerintah daerah mau­pun para pemangku ke­pen­tingan lo­kal untuk menentukan cara pelak­sanaan dan jangka wak­tu pe­nyelesaian proyek pem­ba­ngunan.
Selain itu, lanjut Troy, proyek ini telah mendapatkan dukungan oleh pemerintah daerah baik di ting­kat provinsi maupun kabu­pa­ten. Dalam waktu yang ber­sama­an dan sebagai tindak lanjut dari penilaian kebutuhan sosial, pro­gram sosial perusahaan (CSR) juga telah dikembangkan dan di­laksanakan yaitu memberikan ak­ses air bersih dan penyehatan ling­kungan kepada masyarakat yang tinggal di desa-desa di sekitar lo­kasi pabrik. “Namun adanya ak­si kekerasan yang terjadi pada 5 Desember 2010 dan meng­han­cur­kan aset kami di dalam lokasi pro­yek menunjukkan bahwa si­tuasi sosial tidak kondusif,” ujar Troy Pantouw.
Dia juga menegaskan, PT Tirta I­nvestama dalam hal ini tidak meng­­inginkan untuk meng­eks­pose lebih jauh para karya­wan­nya serta aset-asetnya. De­ngan de­mi­kian, perusahaan tidak meng­ingin­kan untuk melanjutkan pro­­yek tersebut selama kondisi be­­lum pulih sediakala. Dalam si­­tuasi saat ini, perusahaan telah me­­mutuskan untuk memin­dah­kan sumber dayanya bagi ke­ma­juan proyek-proyek lain. “Per­usa­haan juga menuntut tin­­dak kri­minal yang terjadi pada 5 De­sember itu diproses sesuai de­ngan prinsip-prinsip pene­ga­kan hu­kum,” tambah Troy.
Saat ini, tegasnya, perusahaan te­lah memilih untuk mening­gal­kan Padarincang seraya me­nunggu langkah penegakan hu­­­kum selanjutnya dari aparat yang berwenang termasuk dari pe­merintah daerah.

TIDAK TAHU
Ketua DPRD Kabupaten Serang Fah­mi Hakim saat dikonfirmasi mengatakan belum mengetahui heng­kangnya PT Tirta Investama dari Kabupaten Serang. “Ooh gitu, saya belum tahu nih kabar itu,” kata Fahmi saat dihubungi Radar Banten melalui telepon selular.
Po­litisi Golkar ini mengatakan, heng­kangnya investor dari Ka­bupaten Serang harus menjadi pe­lajaran bagi Pemkab Serang ka­rena berdampak terhadap citra investasi di mata publik. “Ini pasti akan berdampak terhadap citra iklim investasi di Kabupaten Se­rang. Peristiwa ini tidak boleh ter­jadi lagi di kemudian hari ka­rena akan merugikan pe­me­rintah daerah,” kata Fahmi.
Ditambahkan Fahmi, ada be­be­rapa catatan pada kasus heng­kangnya Aqua dari Kabupaten Se­rang yaitu sosialisasi yang tidak op­timal baik oleh perusahaan mau­pun Pemkab. “Kami tidak bisa berbuat apa-apa, ini wilayah teknis eksekutif sedangkan Dewan ha­nya bisa memberikan masukan ke­pada pemerintah,” katanya.
Sementara Wakil Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah, mengatakan, ke­­luarnya Aqua dari Kabupaten Se­­rang menjadi pelajaran bagi Pem­­kab dan membutuhkan kerja ke­­ras untuk memulihkan citra bu­­ruk di mata investor. “Saya su­dah berulangkali memohon ke­pada masyarakat agar memiliki lan­­dasan kuat ketika menolak ke­­beradaan investor supaya kita ti­­dak rugi dan disalahkan,” kata Tatu.
Menurut Tatu, posisi Pemkab jelas akan membela masyarakat jika memang perusahaan terbukti merugikan, tapi alangkah baiknya jika perusahaan diberikan ke­sem­patan terlebih dulu. “Tapi ini sudah terjadi dan menjadi pe­lajaran berharga bagi kita se­mua, yah Pemkab, investor mau­pun masyarakat,” kata Tatu.
Sekadar mengingatkan, PT Tirta In­­vestama mulai melakukan pem­ba­ngunan pada 2007 tapi di tengah per­­jalanan mendadak di­protes se­­bagian warga dengan ala­san me­ngancam ketersediaan air. De­sakan warga yang kontra ke­t­i­ka itu membuat Bupati Serang Tau­fik Nuriman meminta agar per­­usa­haan menghentikan se­men­tara pem­bangunan hingga sua­sana kon­dusif. Hingga pada per­tengahan 2010 perusahaan kem­bali melaku­kan pem­ba­ngu­nan setelah melaku­kan sosialisasi ke­­pada masyarakat. Tapi ma­sya­ra­kat kembali mela­ku­kan pro­tes pa­da Desember 2010 yang ber­ak­hir rusuh hingga akhir­nya per­usa­haan itu hengkang dari Se­rang. (yes-kar/alt)

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s